Polusi Cahaya

Penjelasan dan dampak tentang polusi cahaya bisa dibaca di; http://green.kompasiana.com/polusi/2010/10/08/polusi-cahaya-dan-dampaknya/

Di sebagian kota besar, langit seolah tidak berbintang, hanya menyisakan langit kelam dan pucat. Manusia terjebak oleh cahaya menyilaukan buatan sendiri, dan memutuskan hubungan dengan cahaya bintang yang bersinar redup di tengah kegelapan, lalu manusia mengacaukan ritme siang-malam. Polusi cahaya membutakan kita terhadap tempat kita di alam semesta, tempat hidupnya jutaan spesies nokturnal yang mengagumkan. 

Kita telah menyalakan malam seakan malam itu kosong tak berpenghuni, padahal kenyataannya sungguh berlawanan.

“To learn something new, first, you must know something old”

Sometimes fate is like a small sandstorm that keeps changing directions. You change direction but the sandstorm chases you. You turn again, but the storm adjusts. Over and over you play this out, why? Because this storm isn’t something that blew in from far away, something that has nothing to do with you. This storm is you. Something inside of you. So all you can do is give in to it, step right inside the storm, closing your eyes and plugging up your ears so the sand doesn’t get in, and walk through it, step by step. There’s no sun there, no moon, no direction, no sense of time. Just fine white sand swirling up into the sky. That’s the kind of sandstorm you need to imagine.

Pada mata yang tertutup, bukan berarti tertidur. Pada mata yang
terbuka, tidak semuanya bisa
melihat cahaya.

Ibu, ayah, maafkan anakmu ini yang terlalu angkuh sibuk dengan dunianya sendiri, hingga tidak punya waktu banyak untuk kalian.

Di kanan jurang, di kiri tebing, di depan ada jalan setapak berkabut, di belakang ada jalan pulang ke rumah, cuma ada 2 jalan, terus ke depan, atau pulang ke rumah, tapi kalo pulang ga akan bisa nyampe ke puncak di depan.